Bagi warga lokal dan pelancong sejati, ada satu nama produk kuliner yang tetap eksis di tengah trem aneka pastry: Awug Cibeunying
Awug Cibeunying dirintis oleh Ajang Muhidin pada 1980. Resepnya merupakan warisan dari sang ayah, almarhum H. Jazuli, yang kemudian dijaga tanpa banyak perubahan hingga kini. Selama hampir setengah abad, awug ini berhasil melewati berbagai tren kuliner yang silih berganti di Kota Bandung.
Di saat banyak panganan mulai beralih menggunakan bahan instan, kedai yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 361 ini tetap setia pada pakem aslinya. Bahan bakunya sederhana: tepung beras putih, parutan kelapa segar, air secukupnya, dan sentuhan garam (gata) untuk menyeimbangkan rasa.
Rahasia keharumannya yang khas berasal dari penggunaan daun pandan asli yang ikut dikukus di dalam aseupan (kukusan bambu berbentuk kerucut). Proses memasak tradisional inilah yang menjaga tekstur awug tetap lembut, kenyal, dan tidak mudah keras.
Sensasi Lumer Gula Aren 'Kaung' Pilihan
Awug Beras Cibeunying, jajanan legendaris di Bandung sejak 1980. Foto: Sudrajat |
Satu hal yang membuat orang rela mengantre di depan Balai Besar Tekstil adalah "kejutan" di dalam setiap potongannya. Awug ini menggunakan gula aren (gula kaung) premium yang disusun berlapis dengan adonan tepung beras.
"Awung ini gak kalah lembut dengan bikinan Bi Neneng di Ciparay," kata Dian Wicaksono, pelancong asal Depok. Ia sengaja ke Bandung melepas malam Tahun Baruan bersama dua temannya.
Saat dikukus selama 10-15 menit, gula aren tersebut mencair dengan sempurna. Begitu disajikan hangat, lelehan gula cokelat yang manis legit langsung lumer di lidah, beradu dengan gurihnya taburan kelapa parut di atasnya. Sensasi manis alami ini menjadi alternatif yang menyegarkan bagi Anda yang mulai bosan dengan manisnya topping cokelat atau krim pada roti modern.
Jajanan Rakyat, Kualitas Pejabat
Harga seporsi Awug Beras Cibeunying masih terbilang terjangkau, mulai Rp 10 ribuan. Foto: Sudrajat |
Meski telah berusia puluhan tahun, harga Awug Cibeunying tetap terjangkau. Satu kotak kecil awug hangat dijual mulai dari Rp10.000-an. Selain awug, kedai ini juga menjual beragam jajanan tradisional Sunda lainnya, seperti klepon, gemblong, gurandil, jiwel, dan aliagrem.
"Kurang lebih ada 30 jenis jajanan tradisional yang kami jual," kata Rizky Ahmad Fauzi, anak pendiri Awug Cibeunying yang kini meneruskan usaha tersebut.
Untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, Awug Cibeunying juga mulai memanfaatkan layanan pesan-antar berbasis aplikasi seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Menurut Rizky, langkah ini diambil untuk memudahkan konsumen, terutama di tengah kemacetan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Sejak 2 Januari lalu, Awug Cibeunying menempati rumah toko baru yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi sebelumnya. Meski ruangannya lebih luas, pengunjung belum dapat menikmati awug di tempat. Ke depan, pengelola berencana menyediakan meja dan kursi agar pengunjung bisa menikmati jajanan secara langsung.
Di tengah arus kuliner modern yang terus berubah, Awug Beras Cibeunying menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat. Bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari ingatan kolektif dan identitas kuliner Kota Bandung.
Awug Beras Cibeunying
Lokasi: Jl. Ahmad Yani No. 361, Bandung (Depan Balai Besar Tekstil/STTT)
Jam Operasional: 08.00 - 19.30 WIB
Ciri Khas: Dikukus dengan aseupan, menggunakan gula aren asli, sudah ada sejak 1980



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN